Karya cipta Indonesia

Yang sudah dipatenkan

1. Biodiesel Minyak Jarak

Image

Nomor Paten : P0027952
Inventor : Prof.Dr.Ir.H. Sudarajat, M.Sc

Kementerian Kehutanan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kehutanan untuk pertama kalinya mempatenkan empat hasil penelitian, salahnya tentang Pembuatan Biodiesel dari Minyak Jarak Pagar dengan Proses Esterifikasi – Transesterifikasi

2. Alat Ukur Diameter Pohon

images (1)

Nomor Paten : S0001084
Inventor : Wesman Endom, M.Sc dan Yayan Sugilar

Alat ukur diameter pohon atau disebut alat ukur Wesyan. Alat ukur Wesyan tersebut memungkinkan pengukuran pohon berdiameter besar dan berbanir di lapangan dapat dilakukan oleh satu operator dengan lebih mudah dan tingkat ketelitian terjaga.
Alat ukur yang biasa digunakan untuk mengukur diameter pohon misalnya pita keliling dan garpu pohon hanya praktis digunakan untuk mengukur
pohon berdiameter kecil dan tidak memiliki banir.
Alat ukur diameter pohon Wesyan berbentuk menyerupai gunting, terdiri
atas bilah pertama (10), bilah kedua (20), komponen penyatu (30) yang
menyatukan bilah pertama dan bilah kedua pada satu titik, sehingga bilah
pertama dapat digerakkan secara relatif terhadap bilah kedua atau
sebaliknya, dimana jarak antara ujung bilah pertama ke komponen penyatu
sama dengan jarak bilah kedua ke komponen penyatu.

3.TEPUNG LELE

tepunglele2-150x150

Nomor Paten : P00201000605
Inventor : PT. Carmelitha Lestari

Kebutuhan gizi bagi balita, anak-anak maupun dewasa dapat dipenuhi oleh pemberian makanan berbahan baku tepung ikan. Produk makanan tepung ikan juga sangat cocok didistribusikan di daerah-daerah terkena bencana guna membantu meningkatkan jumlah manusia yang dapat diselamatkan saat darurat bencana.
Tepung ikan lele yang dapat menjadi bahan baku makanan bergizi dan fungsional dengan kandungan protein tinggi.

Keunggulan dan Spesifikasi

-Komposisi gizi: air 7.99%, protein 63.83%, lemak 10.83% dan karbohidrat 20.51%
-Protein ikan lele mengandung semua asam amino esensial
-Tidak terasa dan berbau ikan lele
-Membantu proses penyembuhan saat sakit
-Mudah dikonsumsi
-Dapat dikirim ke lokasi terpencil dengan mudah

4.OBAT HERBAL ANTIDIABETES DARI BUNCIS

dmphas2-150x150

Nomor Paten : P00200300424
Inventor : CV. Inovasi Karya Anak Bangsa

Obat herbal yang sangat aman digunakan karena terbuat dari ekstrak tumbuhan tanpa bahan kimia dan bahan pengawet, sehingga dapat menjadi solusi bagi penderita diabetes di Indonesia (dengan jumlah 8,6% dari total populasi penduduk)
Ekstrak tumbuhan yang dapat menurunkan kadar gula darah dan memiliki kemampuan memperbaiki fungsi pankreas dalam memproduksi insulin dengan pengobatan intra pankreatik.

5.ALAT PANCING GURITA (ACAH)

acah1-150x150

Nomor Paten : S0001010B
inventor : CV. Trisanusa

Saat ini alat untuk menangkap gurita yang umum digunakan adalah tombak yang penggunaannya harus menyelam dengan cara memasukkan tombak/pengait ke lubang-lubang karang, sehingga selain membahayakan nelayan juga dapat menimbulkan potensi kerusakan pada ekosistem terumbu karang. Inovasi Alat untuk memancing gurita tanpa umpan dengan menggunakan teknologi gelombang infrasonik

Keunggulan dan Spesifikasi

-Tidak menggunakan umpan
-Dapat digunakan dari atas perahu/kapal (tidak harus menyelam)
-Menggunakan tenaga batere yang tahan lama
-Menggunakan gelombang infrasonik yang aman bagi terumbu karang dan ekosistem laut lainnya

6.KOMPOR BIOMASSA UB-03

biomassa2-150x150
Nomor Paten : P00201000217
inventor : CV. Kreasi Daya Mandiri

Kompor Biomassa UB-03 didesain untuk menghemat kayu bakar yang banyak digunakan oleh ibu-ibu rumah tangga di pedesaan.
Kompor dengan sistem pemanasan udara awal untuk pembakaran (pre-heating) dan counter flow dengan pencampuran udara dan gas bahan bakar secara turbulen.

Keunggulan dan Spesifikasi

-Hemat bahan bakar kayu sampai 80%
-Efisiensi pembakaran: 50% (tungku tradisional: 7% – 10%)
-Dapat menggunakan biomassa kering lainnya (ranting kayu, briket sampah, daun kering, dll.)
-Proses pembakaran hampir sempurna dan lebih bersih dengan asap pembakaran jauh berkurang dibandingkan tungku tradisional
-Penambahan biomassa mudah dilakukan untuk memasak dalam waktu lama

7.TES KIT UNTUK DIAGNOSA INFEKSI HELICOBACTER PYLORI

helico1-150x150

Nomor Paten : –
inventor : PT. Bioramp Diagnostika

Penyakit maag selain disebabkan oleh kesalahan pola makan dapat pula diakibatkan oleh infeksi bakteri Helicobacter pylori. Metoda yang selama ini digunakan untuk mendeteksi keberadaan bakteri dalam lambung tersebut adalah dengan teknik endoskopi yang memerlukan biaya mahal.
Rapid Test Kit yang didesain untuk mendeteksi keberadaan Helicobacter pylori dalam lambung penderita sakit maag, dengan hasil cepat dan akurat.

Keunggulan dan Spesifikasi

-Lebih akurat untuk orang Indonesia karena menggunakan antigen lokal
-Harga lebih murah dibandingkan produk impor sejenis
-Penggunaan mudah dengan peralatan sederhana (dapat digunakan oleh dokter Puskesmas dan RSUD)
-Hasil cepat dan akurat (15 menit)
-Kemasan kompak dan tahan lama

8. ALAT PASTEURISASI SUSU ELEKTRIK (SULIS)

sulis2-150x150sulis1-150x150

Nomor Paten : P00201100353
inventor : –

Alat yang sangat bermanfaat untuk peternak sapi perah dan pengusaha susu agar dapat memiliki waktu penyimpanan produk yang lebih lama dengan menggunakan inovasi ini.
Perangkat pasteurisasi susu dengan teknologi Pulsed Electric Field (PEF) – metode pengolahan makanan non-termal dengan kejut listrik tegangan tinggi.

Keunggulan dan Spesifikasi

-Ekonomis dan efisien dengan menggunakan kejutan listrik (sampai 30 kV)
-Konsumsi daya listrik rendah (hanya 90 Watt)
-Menonaktifkan 99% mikroorganisme tanpa mengubah warna dan bau, serta tidak merusak protein dan kandungan nutrisi susu lainnya
-Memperpanjang umur simpan susu (sampai 1 minggu dalam lemari pendingin)
-Dapat digunakan untuk produk lain (juice, sari buah, dll.)

9.ALAT PERONTOK PADI DENGAN SEPEDA (OBELT THRESHER)

obelt3-150x150obelt1-150x150

Nomor Paten : S00201000087
Inventor : CV. Hikari Teknik

Obelt Thresher merupakan perpaduan antara alat perontok padi dengan sepeda sehingga alat ini sangat mudah dipindah-tempatkan. Sumber tenaga perontok padi ini berasal dari kayuhan sepeda yang juga sebagai alat pembawa untuk berpindah tempat. Pada saat perontok padi tidak digunakan, maka sepeda ini berfungsi sebagai alat transportasi sebagaimana layaknya sepeda biasa.
Alat perontok padi yang sangat mudah dipindah-tempatkan.

Keunggulan dan Spesifikasi

-Tidak menggunakan bahan bakar
-Tidak menggunakan listrik
-Susut perontokan sangat kecil, hanya 1,25% (metoda gebot konvensional: 10% – 12%)
-Kapasitas perontokan 93.48 kg/jam
-Bobot mesin 14.5 kg
-Dapat digunakan dengan banyak jenis sepeda

10. KOMPOR GASTRIK

gastrik2-150x150gastrik1-150x150

Didesain untuk mengatasi kelangkaan minyak tanah dan gas LPG yang menimbulkan permasalahan tersendiri bagi masyarakat karena beberapa kasus ledakan tabung gas LPG yang menyebabkan kekuatiran bagi penggunaanya.
Kompor yang menggunakan bahan bakar bioetanol yang dikonversi dari bentuk cair menjadi gas.

Keunggulan dan Spesifikasi

-Menggunakan bahan bakar bioetanol
-Api biru, modern, aman dan efisien layaknya kompor LPG
-Mudah dalam pengoperasian (otomatisasi)
-Tabung bahan bakar tidak bertekanan sehingga anti meledak
-Daya listrik rendah hanya 50 Watt untuk pemanasan awal
-Ramah lingkungan, bersih dan tidak berjelaga

11. MESIN PEMISAH DAGING DAN TULANG IKAN (SURITECH)

Suritech3-150x150Suritech1-150x150

Nomor Paten : P00200600292
inventor : PT. Samudera Teknik Mandiri

Hasil survey menunjukkan potensi ikan-ikan kecil hasil tangkap sampingan (HTS) di Laut Arafura saja mencapai hampir 400 ribu ton/tahun. Potensi HTS (by-catch) tersebut belum dimanfaatkan dengan baik, bahkan sebagian besar dibuang ke laut (dalam keadaan mati)
Perputaran yang selaras antara conveyor belt dan silinder berpori menghasilkan mesin yang dengan sangat efisien mampu memisahkan daging dan tulang ikan-ikan HTS yang bernilai ekonomis rendah. Hasil keluaran berupa daging lumat (surimi) untuk bahan baku nugget, baso, otak-otak, kerupuk ikan, dan lain-lain.

Keunggulan dan Spesifikasi

-Harga lebih murah dibanding mesin impor
-Suku cadang mesin tersedia di pasaran
-Teknologi sederhana, pengoperasian dan perawatan mesin mudah
-Dimensi: 70cm x 72cm x 90cm (p x l x t)
-Daya listrik: 400 – 600 Watt, 220 V
-Kapasitas pemisahan: 80 kg/jam, efisiensi pemisahan: 94.18%, susut hasil: 3.4%
-Noise: 71 dB

Yang belum di patenkan

1. C-Dry, Pengering Cabe Efisien Karya ITS

Pengering Cabai ITS

C-Dry cukup dengan sumber energi listrik saja. Modifikasi lainnya terletak pada bentuk fisik alat pengering. Sebelumnya, bentuknya yang memanjang horizontal dianggap terlalu banyak memakan tempat. Sehingga, diubah menjadi bentuk yang vertikal ke atas dengan alas berbentuk V. ”Hal ini kami lakukan agar udara panas dapat segera bergerak ke atas,” beber mahasiswa Jurusan Teknik Industri tersebut. Pada sisi atap C-Dry sendiri, ditambahkan cerobong asap yang langsung berhubungan dengan sisi bawah. Hal tersebut dilakukan untuk meminimalisasi energi panas yang terbuang. Sehingga terjadi sirkulasi udara panas dengan ukuran suhu tetap. Zulvah menambahkan, untuk sekali produksi, C-Dry dapat mengeringkan 18 kg cabai segar dalam waktu maksimal lima jam.

C-Dry juga memiliki kekurangan di beberapa bagian. Yuandhika menyebut, meskipun hanya menggunakan satu sumber energi, daya yang dibutuhkan masih cukup besar. “Untuk sekali beroperasi, dapat memakan daya listrik 1.750 watt,”

2. Koteka

435px-Koteka

Koteka adalah pakaian untuk menutup kemaluan laki-laki dalam budaya sebagian penduduk asli Pulau Papua. Koteka terbuat dari kulit labu air, Lagenaria siceraria. Isi dan biji labu tua dikeluarkan dan kulitnya dijemur. Secara harfiah, kata ini bermakna “pakaian”, berasal dari bahasa salah satu suku di Paniai. Sebagian suku pegunungan Jayawijaya menyebutnya holim atau horim.

Tak sebagaimana anggapan umum, ukuran dan bentuk koteka tak berkaitan dengan status pemakainya. Ukuran biasanya berkaitan dengan aktivitas pengguna, hendak bekerja atau upacara. Banyak suku-suku di sana dapat dikenali dari cara mereka menggunakan koteka. Koteka yang pendek digunakan saat bekerja, dan yang panjang dengan hiasan-hiasan digunakan dalam upacara adat.

Seiring waktu, koteka semakin kurang populer dipakai sehari-hari. Koteka dilarang dikenakan di kendaraan umum dan sekolah-sekolah. Kalaupun ada, koteka hanya untuk diperjualbelikan sebagai cenderamata.

Di kawasan pegunungan, seperti Wamena, koteka masih dipakai. Untuk berfoto dengan pemakainya, wisatawan harus merogoh kantong beberapa puluh ribu rupiah. Di kawasan pantai, orang lebih sulit lagi menemukannya.

Mari kita berharap UNESCO segera mengakui KOTEKA sebagai Hak Paten Milik Bangsa Indonesia

3. Perjaka”, Permen Sehat dari Ikan

Cara pembuatan permen sehat ini juga terbilang mudah. Semua bahan baku dihaluskan menggunakan blender kemudian dipanaskan dan ditambahkan gula. Selanjutnya, tuangkan gelatin yang telah dipanaskan dengan air. Aduk rata dan cetak.

Hasil karya dua sekawan ini berhasil meraih juara empat dalam lomba Inovasi Pengembangan Produk Perikanan kategori mahasiswa. Perlombaan yang dihelat belum lama ini di Jakarta merupakan besutan Kementerian Kelautan dan Perikanan

 

4. REAKTOR BIOGAS ( Andrias Wiji Setio Pamuji )

Reaktor biogas adalah alat pembangkit gas yang dibuat dari kotoran ternak, penemunya adalah Andrias Wiji Setio Pamudji. Seorang lelaki yang berasal dari Desa Ngerendeng, kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.
Penemuan ini bermula kala ia masih kuliah di tingkat III di Jurusan Teknik Kimia Departemen Teknik Industri Institut Teknologi Bandung sekitar tahun 2000-an. Waktu itu ia meriset pembikinan reaktor biogas yang sederhana. Tapi dari yang sederhana inilah muncul sesuatu yang bisa dijadikan gas. Sebab sudah mengetahuinya, maka keingintahuannya semakin menggebu.
Kotoran ternak yang diperoleh dari tempat peternakan di masukkan kedalam jerigen berukuran lima meter kemudian ditutup dan tidak dicampur apapun. Setelah itu akan terjadi fermentasi alami yang kemudian kotoran ternak tersebut berubah menjadi gas.
Sebulan kemudian tutup jerigen dibuka dan lubang jerigen segera di beri plastik, kemudian Andreas menyoblos plasik tersebut dengan benda tajam dan keluarlah gas. Walhasil ketika disulut korek api langsung terbakar. Demi menyempurnakan karyanya ia membentuk reaktor dan penampung gas yang murah, kuat dan berkapasitas cukup apabila digunakan untuk keperluan rumah tangga.
Jerih payah Andrias terbayar tunai ketika ia membuat reaktor dari plastik dengan ketebalan 250 mikron serta menciptakan kompor untuk jenis gas metana. Kenapa yang dipilih sebagai penampungnya itu plastik dan bukan lainnya? Karena gas yang dihasilkan belum mampu dikemas dalam tabung. Gas kotoran sapi adalah jenis metana (CH4). Sementara gas yang dikemas dalam tabung merupakan gas yang bisa dicairkan, yang berasal dari butana (C4H10) dan pentana (C5H12).
Apabila gas bisa dicairkan, maka jumlah volume yang bisa ditampung jadi lebih banyak. Sayangnya metana belum bisa demikian. Temuan Andrias baru dipasarkannya tiga tahun kemudian, yaitu pada 9 April 2005. Padahal dua tahun sejak ditekuni, yaitu tahun 2002, karyanya pernah memenangkan lomba kreativitas mahasiswa yang diadakan Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
5. Pemacu Produktifitas dan Kualitas Udang dan Ikan ( Arief Mulyana Djumra )
 Melihat tren dalam upaya menggenjot hasil produksi pertanian, Arief Mulyana Djumra, 42 tahun, alumnus Teknik Kimia Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Surabaya ini prihatin dengan peredaran produk-produk kimia yang digunakan sudah di ambang batas. “Kalau dibiarkan, akan berdampak negatif. Terutama untuk keseimbangan lingkungan maupun kesehatan”, kata Arief.
Keprihatinannya kemudian diwujudkan dengan membuat sebuah formulasi. Bentuknya berupa aktivator hayati untuk tambak udang dan ikan. Temuan yang digagas bersama rekan kerjanya ini dinamakan Mikrobial Plus. Yakni, sebuah teknologi berkonsep pengkayaan nutrisi, yang bermanfaat dalam meningkatkan produktifitas dan kualitas tambak. “Manfaat utamanya adalah untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas lingkungan tambak”, jelas Arif.
Ahli kimia ini memang tergolong orang yang tidak mau tinggal diam kalau melihat kerusakan ekosistem akibat pemakaian bahan kimia berlebihan. Berdasarkan pengalamannya melanglang buana sebagai konsultan lingkungan untuk sejumlah perusahaan, membuat Arief dan rekan-rekannya bertindak. Dan teknologi bernama Mikrobial Plus itulah hasilnya.
“Aktivator ini adalah hasil penelitian bioteknologi terapan yang memadukan konsep effective microorganism technology dari Jepang dan pengkayaan nutrisi”, terangnya. Adapun mikroba yang digunakan dipilih dari spesies unggul jasad renik daerah tropis tanpa campuran bahan kimia dan hasil rekayasa genetika. Inilah yang menjadi jaminan 100% akan aman bagi lingkungan. Tentu saja dengan kegunaan utama untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas hasil udang dan ikan.
Menurut Arief, jasad renik ini murni dibikin di Indonesia. Pasalnya, negri ini memiliki cadangan bahan yang melimpah ruah, di samping bebas dari unsur rekayasa genetika seperti yang biasa dipraktikkan negara lain. “Jadi jelas beda kan?” tambah arek Suroboyo ini.
Dalam memasyarakatkan produk ini, PT. Era Mandiri Lestari sebagai produsen menunjuk CV. Azka Gemilang. “Sasaran yang ditembak adalah lokasi-lokasi yang potensial menghasilkan udang dan ikan”, ujar Diah Sari, direksi CV. Azkia Gemilang.
Lokasi lahan untuk percontohan antara lain di daerah Dipasena (Lampung), Demak (Jawa Tengah) dan Karawang (Jawa Barat). Terbukti, uji coba itu memang terasa “khasiatnya”. Di daerah Cibuaya, Karawang misalnya. Hanya dalam waktu 65 hari, udang bisa mencapai size 30 (artinya 30 ekor  per kilo). Padahal, umumnya membutuhkan sedikitnya 90 hari lebih.
Manfaat lainnya, bisa digunakan untuk mengatasi penyakit klasik udang, yakni stres. “Jangankan sebelum udang mengalami stres, pada waktu stres pun bisa sembuh dengan Mikrobial Plus ini”, jelas Arief yang juga Direktur PT. Era Mandiri Lestari berpromosi. Setiap produk, apalagi yang berhubungan dengan kelangsungan dan kualitas makhluk hidup, pasti ada efek sampingnya. Kendati kemungkinannya kecil, pada udang pun demikian. Hal inilah yang dihindari oleh Arief. “Alhamdulillah, dalam setahun ini tidak ada sedikit pun yang mengeluh sampai ke telinga kami”, tegasnya.
Salah satu kunci teknologi ini ialah penerapannya yang lebih mengarah pada keseimbangan lingkungan. Tanpa sedikit pun  membuat kerusakan di kemudian hari. (Setyo Nuryanto)
 6.  Klip Penambat Bantalan Kereta Api dengan Dua Gigi ( Budi Noviantoro )
Budi Noviantoro, lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 17 November 1960. Menamatkan sarjananya di ITS Surabaya dan UIN Bandung. Sebelum di temukan KA Klip, rel kereta api di Indonesia memakai penambat khusus. Contohnya untuk rel ukuran R33, penambat relnya tidak dapat memakai penambat bermerk Padrol atau DE Clip karena longgar. Ditambah alat ini harus diimpor atau minimal di rakit sendiri ditanah air tapi harus membayar royalti kepada pemilik paten.
Klip bantalan kereta api dengan dua gigi yang ditemukan oleh Budi bernama KA Klip atau lebih dikenal dengan sebutan penambat rel (fastener) ini lebih sesuai dengan karateristik kereta api di Indonesia.

Jika memakai KA Klip yang sudah diuji bertahun-tahun di lapangan sebelum diakui dan mendapat paten, PT KA tidak perlu repot mengimpor, yang berarti sama halnya dengan menghemat bea impor. Klip rek kereta api temuan Budi hebatnya bisa digunakan di rel berukuran berapapun baik R33, R42 maupun R54.

Meski Budi telah menemukan KA Klip, ia tidak mematenkan temuannya. Sebab penambat rel itu kemudian dipatenkan oleh PJKA. Alasannya sedari awal, ia memang menyerhkan temuannya langsung ke PJKA untuk dimanfaatkan. Disampi ng itu Budi memang tidak berkerja sendiri, ada PT Pindad yang memefasilitasinya mengolah penelitian, pengembangan , lantas memproduksi. Tetapi apapun itu, namanya patut kita catatkan pada sejarah penemu Klip Bantalan Kereta Api dengan Gua Gigi Indonesia.

7.        Bunga Sukun Pembasmi Nyamuk Alami dan Murah ( EDDYMAN, INTAN ELFARINI & KANAKA SUNDHORO )
 Eddyman Kharma, Intan Elfarini dan Kanaka Sundhoro, pelajar SMA Taruna Nusantara, berupaya menawarkan cara membasmi nyamuk dengan murah, alami dan efektif. Temuan itu bukan serta-merta datang begitu saja, namun telah melewati penelitian ilmiah yang rumit dan panjang. Karena itulah, setelah dilombakan dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), karya ilmiah berjudul “Eksplorasi Bunga Sukun sebagai Pengganti Isi Ulang (Refill) Obat Nyamuk Elektrik” itu menyabet juara pertama.
Dalam penelitian ilmiahnya, ketiga pelajar SMA itu membandingkan keefektifan objek penelitian mereka dengan salah satu obat antinyamuk elektrik ternama. Setelah melalui uji laboratorium, kata Eddyman, obat antinyamuk temuannya justru lebih efektif dan lebih tahan lama ketimbang obat antinyamuk elektrik pembanding.
“Hasil penelitian kami menyebutkan bahwa bunga sukun dapat digunakan sebagai penolak nyamuk, sekaligus bisa membunuhnya. Setelah dibandingkan dengan obat nyamuk elektrik, temuan kami lebih efektif dan tahan lama, dan tentunya lebih ekonomis”, kata Eddyman menjelang pemaparan karya ilmiahnya di muka dewan juri, awal Desember lalu.
Dalam presentasi penelitian itu di kampus LIPI, Eddyman dan teman-temannya mengemukakan bahwa sukun memiliki banyak kegunaan, namun saat ini kebanyakan orang masih memanfaatkan sukun sebatas pada konsumsi buahnya sebagai sumber gizi dan pengobatan penyakit jantung, penyakit kulit, diare, diabetes, sakit kepala, sakit gigi, herpes, hipertensi, kelainan tulang dan sembelit.
“Setelah melewati uji pustaka, diketahui bahwa bunga sukun mengandung zat kimia yang diperkirakan bisa mengusir bahkan membunuh serangga, namun aman bagi manusia”, kata Eddyman di depan juri.
 8. Lagu Lir ilir
 
Lirik lagu :
Lir ilir, lir ilir Tandure wis sumilir Tak ijo royo-royo Tak sengguh penganten anyar
Cah angon-cah angon Penekna blimbing kuwi Lunyu-lunyu penekna Kanggo mbasuh dodotira
Dodotira-dodotira Kumitir bedah ing pinggir Dondomana jlumatana Kanggo seba mengko sore
Mumpung padhang rembulane Mumpung jembar kalangane Yo suraka…….aaa Surak hiya
Karya ini berada pada domain publik di Indonesia karena merupakan hasil rapat terbuka lembaga negara, peraturan perundang-undangan, pidato kenegaraan atau pidato pejabat pemerintah, putusan pengadilan atau penetapan hakim, atau keputusan badan arbitrase atau keputusan badan sejenis lainnya. Karya ini tidak memiliki hak cipta. (Pasal 13 UU No. 19 Tahun 2002)
Karena merupakan dokumen resmi pemerintahan, karya ini juga berada pada domain publik di Amerika Serikat.
Lir-Ilir, Lagu Sunan Kalijogo yang Belum Dipatenkan
SOLO– Kasultanan Keraton Pajang, Solo, Jawa Tengah, meminta kepada Kementerian Kebudayaan untuk mematenkan semua kebudayaan islam, terutama lagu-lagu syiar agama yang diciptakan para Wali Songo. Salah satunya lagu Lir- ilir yang diciptakan Sunan Kalijogo.
Temenggung Kasultanan Keraton Pajang, Solo, Jawa Tengah, Agung Santoso, mengatakan, langkah mematenkan syair lagu Lir- ilir ditujukan agar karya cipta Sunan Kalijago tidak di klaim negeri Jiran, Malaysia, seperti yang pernah terjadi di kebudayaan asli Indonesia lainnya.

( Tes Kit untuk Diagnisa Infeksi Helicobacter Pylori )

Penyakit maag selain disebabkan oleh kesalahan pola makan dapat pula diakibatkan oleh infeksi bakteri Helicobacter pylori. Metoda yang selama ini digunakan untuk mendeteksi keberadaan bakteri dalam lambung tersebut adalah dengan teknik endoskopi yang memerlukan biaya mahal.
Inovasi
Rapid Test Kit yang didesain untuk mendeteksi keberadaan Helicobacter pylori dalam lambung penderita sakit maag, dengan hasil cepat dan akurat.
 
Dukungan RAMP Indonesia
1.       Penyempurnaan teknologi
2.       Sertifikasi Kementerian Kesehatan RI
3.       Pendirian badan usaha, PT. Bioramp Diagnostika
4.       Penyediaan laboratorium dan peralatan produksi
5.       Pemasaran dan komersialisasi teknologi
 
Keunggulan dan Spesifikasi
1.       Lebih akurat untuk orang Indonesia karena menggunakan antigen lokal
2.       Harga lebih murah dibandingkan produk impor sejenis
3.       Penggunaan mudah dengan peralatan sederhana (dapat digunakan oleh dokter Puskesmas dan RSUD)
4.       Hasil cepat dan akurat (15 menit)
5.       Kemasan kompak dan tahan lama

10.                 C-Dry, Pengering Cabe Efisien Karya ITS

 

 Adalah Rizky Fitria Fauzy, Suhartono, Yuandhika Adhi W, dan Zulvah. Ketua PKMT C-Dry Rizky menjelaskan, inisiatif pembuatan PKMT ini muncul dari Tugas Akhir (TA) yang tengah dikerjakan. Mereka pun melakukan survei ke Batu, Malang, yang notabene merupakan salah satu daerah penghasil cabai terbesar di Jawa Timur. ”Di sana sudah ada alat pengering cabai, namun hasilnya masih kurang optimal,” papar Rizky, seperti dilansir dari ITS Online, Jumat (29/6/2012).
”C-Dry cukup dengan sumber energi listrik saja,” kata Zulvah. Modifikasi lainnya terletak pada bentuk fisik alat pengering. Sebelumnya, bentuknya yang memanjang horizontal dianggap terlalu banyak memakan tempat. Sehingga, diubah menjadi bentuk yang vertikal ke atas dengan alas berbentuk V. ”Hal ini kami lakukan agar udara panas dapat segera bergerak ke atas,” beber mahasiswa Jurusan Teknik Industri tersebut. Pada sisi atap C-Dry sendiri, ditambahkan cerobong asap yang langsung berhubungan dengan sisi bawah. Hal tersebut dilakukan untuk meminimalisasi energi panas yang terbuang. Sehingga terjadi sirkulasi udara panas dengan ukuran suhu tetap. Zulvah menambahkan, untuk sekali produksi, C-Dry dapat mengeringkan 18 kg cabai segar dalam waktu maksimal lima jam.
 ”Pada uji coba pertama, C-Dry dapat mengeringkan cabai dalam waktu empat jam,” tukas Zulvan. Namun, layaknya prototype PKMT lainnya, C-Dry juga memiliki kekurangan di beberapa bagian. Yuandhika menyebut, meskipun hanya menggunakan satu sumber energi, daya yang dibutuhkan masih cukup besar. “Untuk sekali beroperasi, dapat memakan daya listrik 1.750 watt,”

11.                 Siswa SMAN 3 Semarang Ubah Asap Rokok Jadi Oksigen

SEMARANG – Pelajar Indonesia kembali mengukir prestasi di kancah internasional. Dua siswa SMAN 3 Semarang, Jawa Tengah, Zihrama Afdi dan Hermawan Maulana, mengharumkan nama bangsa dalam ajang International Exhibition for Young Inventors (IEYI) di Bangkok, Thailand, 28–30 Juni 2012. Mereka menyabet medali emas melalui alat yang mereka ciptakan, Thunder Box (T-Box), yang berfungsi untuk mengurai asap rokok.
Melalui alat tersebut, kandungan-kandungan atau zat berbahaya dalam asap rokok dapat direduksi. Alat ini dapat difungsikan di ruang khusus untuk merokok (smoking room). Zihrama Afdi menuturkan, T-Box mampu menyerap gas karbondioksida (CO2) yang ada pada smoking room, kemudian menguraikannya menjadi karbon dan oksigen. Dari hasil penguraian tersebut, untuk karbonnya dapat dimanfaatkan lagi, sedangkan oksigen yang dihasilkan dapat dialirkan kembali ke dalam smoking room. “Sehingga dapat membuat udara di dalam ruangan tetap segar,’ ujarnya di Semarang kemarin. Ide pembuatan T-Box diperoleh dari pengamatan sederhana. Kedua siswa tersebut melihat banyak perokok yang enggan menggunakan smoking room, tetapi lebih memilih merokok di tempat umum. Dari pengamatan diketahui, para perokok tidak memanfaatkan smoking room lantaran kondisi ruangan itu yang kurang nyaman. Selain sempit, asap rokok di dalam smoking room yang tidak terurai membuat ruangan itu penuh asap.

12.                 Mahasiswa UGM Sulap Ikon Halloween Jadi Obat Diabet

JAKARTA – Siapa sangka labu parang yang biasa digunakan untuk membuat kolak atau sebagai hiasan bagi tradisi Halloween, ternyata dapat digunakan sebagai obat diabetes mellitus tipe dua?
Muhammad Rijki, mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menemukan kandungan senyawa saponin dan flavanoid yang terdapat dalam tumbuhan bernama latin Cucurbita moschata L ini dapat menurunkan kadar glukosa darah dan memperbaiki sel beta pankreas untuk menghasilkan insulin kembali.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Rijki, kandungan saponin secara signifikan dapat menurunkan glukosa darah meskipun percobaan ini baru dilakukan terhadap tikus. Semakin tinggi dosis saponin akan secara signifikan menurunkan kadar glukosa.
Menurut pemuda asal Sukabumi ini, untuk mengobati penyakit diabetes pada manusia, dibutuhkan 400-800 gram labu parang yang telah diekstrasi untuk dikonsumsi tiap hari. Namun, untuk lebih mudah, dia menyarankan agar mengkonsumsi labu parang dalam bentuk jus. “Saponin larut dalam air. Jika dimasak, maka kadar saponin akan berkurang,” katanya seperti dikutip dari situs UGM, Senin (11/7/2011).
Anak kelima dari delapan bersaudara ini mengaku mendapat insiprasi untuk memanfaatkan labu parang ketika sedang berlibur di kampung halamannya, Desa Caringin, Sukabumi, Jawa Barat. Di sana banyak petani yang membudidayakan labu parang sehingga dia tertarik untuk mencari khasiat lain dari labu parang.
“Tapi, sekarang di desa saya sudah jarang yang menanam labu parang. Semoga dengan temuan ini produksi labu parang semakin bertambah,” ujar mahasiswa semester delapan ini.
Berkat penemuannya tersebut, Rijki memperoleh penghargaan Alltech Young Scientist Award dari PT Alltech Biotechnology Indonesia.

13.                 Alat Terapi Otot Dari ITS

Seorang mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Eka Adi Saputra, membuat sebuah alat stimulasi otot yang praktis digunakan. Dia menamakan temuannya, Functional Electrical Stimulation System (FESS). FESS pun dapat menjadi alat terapi alternatif bagi para penderita stroke.
Mahasiswa Teknik Elektro ini menjelaskan, FESS bisa juga dikatakan berfungsi sebagai stimulus eksternal pengganti sinyal otak. Sebab, penderita stroke biasanya bermasalah dengan saraf-saraf tubuhnya. “Perintah dari otak untuk menggerakkan otot pun tidak tersampaikan. Akibatnya, otot menjadi tidak dapat digerakkan,” ujar Eka seperti dikutip dari situs ITS, Kamis (3/3/2011).
FESS dilengkapi dengan sebuah pengendali otomatis, Adaptive Neuro Fuzzy Inferenrence Sistem (ANFIS), yang berfungsi mengontrol seberapa cepat gerakan yang akan dilakukan otot. “Mikrokontroller ANFIS menangkap sensor sudut knee joint. Secara otomatis, proses tersebut memberikan sinyal sesuai kebutuhan pasien,” kata mahasiswa angkatan 2006 ini.
Pria penyuka olahraga futsal itu memaparkan, FESS dioperasikan dengan menempelkan elektroda yang berfungsi sebagai konduktor ke kaki penderita stroke. “Elektroda itu kemudian menstimulasi otot untuk bergerak,” tuturnya. Eka mengingatkan, penggunaan FESS maksimal hanya 30 menit. “Hal tersebut bertujuan agar otot tidak berkontraksi melebihi batas kemampuannya,” mahasiswa asli Banyuwangi tersebut menambahkan.
14.  Limbah Kertas Jadi Bata
Para peneliti dari ITS tak pernah lelah berinovasi dan memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi masyarakat. Salah satunya, seperti yang baru dilakukan oleh dosen Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini. Bangunan Berdinding Bahan Bubur Kertas yang Tahan Gempa, begitulah judul penelitiannya.
Kertas apapun yang tidak terpakai atau rusak, sangat dianjurkan untuk dimanfaatkan menjadi bata. Melimpahnya limbah kertas di perkotaanlah penyebab utama Totok melakukan eksperimen ini. Limbah kertas yang ada di Jurusan tempat ia mengajar pun ia jadikan sebagai bahan baku pembuatan bata.
“Saya melakukan percobaan tersebut di laboratorium yang ia ciptakan sendiri di belakang rumah,” aku Totok. Cara pembuatannya yaitu menghancurkan limbah kertas tersebut, kemudian dicampur dengan semen, dan dipress, kemudian dicetak. Dalam sehari, ia bisa memproduksi satu buah bata. Totok juga menyampaikan bahwa keunggulan dari penggunaan limbah kertas yang diolah menjadi ‘bubur’ ini adalah lebih ringan, serta bila terkena gempa dan roboh tidak terlalu keras seperti bata biasa.

15.     Con Block Dari Kulit Kerang Ala ITS

SURABAYA – Tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya membuat penemuan yang ramah lingkungan.
Para mahasiswa dari Jurusan Teknik Sipil ITS ini menggunakan bahan limbah tangkapan laut yaitu kulit kerang laut, menjadi bahan konsentrat bahari bangunan.
Menurut para mahasiwa, Deni Erfianto, Prayogi, dan Helda, kerang dimanfaatkan untuk membuat Porous Concrete, semacam con block (bahan bangunan yang digunakan untuk perkerasan) yang digunakan sebagai lantai parket atau taman.
“Con blok itu memiliki fungsi hijau, yakni air bisa meresap ke dalam tanah sehingga tidak menyebabkan banjir. Sisi ekonomisnya adalah memanfaatkan barang yang terbuang,” ujar Deni, yang sedang menjalani semester enam.
Porous Concrete memiliki kekuatan 18 mpa. Kini, Deni dan kawan-kawan tengah berupaya menambah kekuatan hingga 20 mpa.
“Kekuatan itu sudah cukup jika dilintasi kendaraan roda empat,” ujar Deni
Lantas, kenapa memilih kulit kerang?
16.     Biomethagreen, Biogas dari Sampah (Muhammad Fatah Wiyatna )
Biogas dari kotoran ternak atau biogas dari limbah tahu telah seringkali kita dengar. Namun, biogas juga dapat diperoleh dari sampah..
Biomethagreen adalah konsep pengelolaan sampah di tempat, ramah lingkungan dan berdaya guna. Jika sampah sudah dikelola dari setiap sumbernya seperti pemukiman, pasar, hotel, rumah makan, rumah sakit, perkantoran dan sebagainya, maka akan sangat sedikit residu sampah yang diangkut ke TPA sehingga akan mengurangi biaya pengangkutan, pencemaran lingkungan dan lainnya.
Biomethagreen sangat cocok diterapkan dilokasi-lokasi tersebut karena proses dan tampilannya yang ramah lingkungan dan bentuknya menarik sesuai lokasi dimana instalasi itu dibangun, seperti bentuk perahu yang akan dibangun pada sebuah kafe di Jl. Sumatra Bandung.
Teknologi ini menggunakan sistem anaerob, yaitu sistem tertutup. Bahan organik yang dimasukkan ke dalam biodigester Biomethagreen nantinya akan dirombak oleh bakteri khusus penghasil methan melalui mekanisme perombakan sehingga menghasilkan gas bio. Gas bio yang dihasilkan akan digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak, pemanas ayam (brooder) dan energi listrik yang sangat aman dan bermanfaat.
17.     Limbah Plastik Jadi Bahan Bakar Minyak ( Tri Handoko )
Di tangan Tri Handoko, ribuan ton limbah plastik yang menggunung di tempat pembuangan akhir (TPA) kota Madiun, Jawa Timur, diubah menjadi bahan bakar minyak bernilai jual, seperti solar dan premium, dengan teknologi tepat guna.
Sistem kerja yang digunakan adalah pirolisis atau destilasi kering. Limbah plastik dipanaskan di atas suhu leburnya sehingga berubah jadi uap.
Proses pemanasan ini menyebabkan perekahan pada molekul polimer plastik menjadi potongan molekul yang lebih pendek. Selanjutnya, molekul-molekul ini didinginkan jadi fase cair.
Cairan yang dihasilkan jadi bahan dasar minyak atau minyak mentah. Dengan destilasi ulang menggunakan temperatur berbeda, yakni mengacu pada titik uap, minyak mentah diproses menjadi premium atau solar.
”Jika suhu pemanasan yang digunakan di atas 100 derajat celsius, yang dihasilkan adalah zat yang mendekati atau memiliki unsur sama dengan premium. Tinggal mengembunkan lagi uapnya, kita dapat premium,” ujarnya.
Konsep dasarnya mengambil unsur karbon (C) dari polimer penyusun plastik. Polimer tersusun dari hidrokarbon, yakni rangkaian antara atom karbon (CO2) dan hidrogen (H2O).
Untuk menghasilkan premium perlu rantai hidrokarbon dengan molekul lebih pendek, yakni C6-C10. Untuk menghasilkan minyak tanah dan solar perlu rantai hidrokarbon dengan molekul lebih panjang, yakni C11–C15 (minyak tanah) dan C16-C20 (solar).
Pada proses akhir perlu refinery, yakni pengolahan bahan baku minyak menjadi minyak siap digunakan. Caranya, dengan mencuci, penambahan aditif, mereduksi kandungan gum atau zat beracun, dan mengklasifikasikan atau mengelompokkan berdasarkan panjang rantai hidrokarbon.
Untuk memproses limbah plastik menjadi bahan bakar yang dikehendaki perlu alat. Sekilas, bentuk alat mirip tripod kamera atau handycam dengan sejumlah kaki penopang. Yang diutamakan adalah fungsinya.
Manfaat yang lebih diharapkan dari inovasi adalah membantu mengatasi masalah lingkungan, meningkatkan taraf hidup masyarakat, dan tawaran solusi mencari energi alternatif.
 Tim peneliti Universitas Indonesia (UI) berhasil menemukan cara baru dalam mentransfer energi listrik melalui media nirkabel (tanpa kabel). Salah satu aplikasi dari teknologi transfer energi listrik nirkabel ini nantinya dapat diterapkan untuk pengisian baterai ponsel melalui udara alias tanpa melalui kabel.
Vendor ponsel asal Amerika Serikat Palm telah mengaplikasikan prinsip serupa pada produk ponsel pintar mereka, Palm Pre. Baterai ponsel pintar ini bisa diisi dengan hanya menaruh ponsel ini dengan sebuah dok pengecas tanpa kabel bernama TouchStone.
Namun, penelitian Eko dan timnya telah berhasil mengaplikasikan pengisian baterai ponsel melalui berbagai media tanpa kabel, seperti melalui udara, air, bahkan dinding beton hingga jarak 60 cm. Sebelumnya, untuk pembuktian konsep ini, Eko sempat membuat alat transfer listrik yang bisa menembus air dan beton.
Alat ini sendiri secara garis besar terdiri dari empat komponen, yakni rangkaian pemancar listrik, antena pemancar (transmitter), antena penerima (receiver), dan rangkaian penerima, yang dipasangi dengan lampu pijar.
Anehnya, alat transfer listrik ini bisa menembus air akuarium, tanpa melukai ikan. Padahal, seperti diketahui, air adalah salah satu konduktor. Dan secara teoritis, arus yang mengalir pada antena pemancar itu sudah cukup untuk menyetrum ikan-ikan di akuarium hingga mati. Namun, hal ini tidak terjadi.
Metode transfer listrik ini sendiri menggunakan prinsip resonansi frekuensi elektromagnetik. Eko menganalogikan sebuah garpu tala yang bila dibunyikan akan membuat garpu tala lain dalam jarak tertentu turut berbunyi.
Fenomena resonansi frekuensi serupa ini, kata Eko, juga terjadi saat sebuah antena pemancar (transmitter) dialiri arus listrik. Antena itu akan menghasilkan medan magnet pada frekuensi tertentu dan membuat antena penerima mengalami medan magnet yang sama, sehingga bisa menghasilkan arus listrik di sisi penerima.
Prinsip ini tak hanya bisa diterapkan untuk pengisian baterai ponsel secara nirkabel, melainkan juga bisa diaplikasikan untuk transfer listrik untuk semua peralatan elektronik berdaya kecil, meliputi radio, televisi, lampu, laptop, pemutar musik, dan gadget-gadget lain.
Oleh karenanya, ke depan, Eko menjelaskan, ia tengah mengembangkan alat ini untuk bisa diaplikasikan pada ponsel atau laptop, sehingga pengguna ponsel dan laptop itu bisa mengisi baterai gadgetnya di hotspot-hotspot tertentu yang ditenagai oleh sel surya, yang berfungsi menyuplai listrik secara nirkabel hingga radius 2 meter.
19. Alat Deteksi Gempa Seharga Rp.50.000
Siapa bilang teknologi canggih harus mahal. Buktinya, hanya dengan modal Rp50.000, tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo berhasil menciptakan sebuah alat pendeteksi (detektor) gempa yang terbilang canggih.
Detektor ini berhasil memenangi juara 1 Kompetisi Rancang Bangun 2010 tingkat nasional yang berlangsung 22-23 Oktober 2010 di Universitas Udayana, Bali.
Alat deteksi gempa itu dibuat oleh Tatang Kukuh Wibawa, Ali Zakaria, dan Fitrianto. Alat yang terdiri dari rangkaian alarm lengkap dengan relay, speaker kecil, dan stop kontak ini dihubungkan sebuah gelang besi dan bandul dari kelereng berbalut kawat tembaga sebagai sensor gerak. Listrik alat ini bersumber dari baterai 9 volt.
Detektor ini pada prinsipnya bertumpu pada bandul besi yang akan bergetar akibat guncangan gempa. Jika getaran gempa cukup besar, bandul tersebut akan menyentuh lempengan yang berbentuk lingkaran (ring) yang dipasang di sekitarnya.
Persentuhan bandul dengan ring yang disambungkan dengan sistem relai listrik itu akan langsung membunyikan alarm yang dipasang pada sistem rangkaian detektor.
20.     Mobil Esemka 
 MOBIL Esemka hasil karya siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Solo harus melalui jalan panjang untuk mendapatkan hak paten atas teknologi maupun hak cipta atas desainnya. Pasalnya, mobil Esemka harus memenuhi unsur kebaruan apabila ingin mendapatkan hak cipta yang dilindungi payung hukum.
Menurut Ramli, hak cipta untuk mobil Esemka bisa didapatkan apabila ada desain atau teknologi baru yang dihasilkan. “Syaratnya itu harus ada unsur kebaruan. Kalau mereka menemukan subyek baru silakan mendaftar ke Ditjen HKI nanti kita uji substantif,” kata Ramli.

Menurut Ramli, sebaiknya para siswa membuat modifikasi baru pada desain mobil Esemka. Modifikasi bisa dilakukan dengan meniru desain mobil yang usianya sudah lebih dari 10 tahun. Ramli menjelaskan, hak cipta mobil yang usianya lebih dari 10 tahun sudah kadaluarsa dan boleh untuk ditiru. Sedangkan teknologi yang bisa ditiru harus berusia di atas 20 tahun.

Dirjen Ramli mengingatkan, mobil Esemka akan dikenakan pembayaran royalti apabila meniru desain mobil keluaran di bawah tahun 2002. Apabila tidak membayar royalti maka mobil yang ditiru bisa melakukan gugatan secara pidana maupun perdata.

Menurut Adri, PT SMK diakui sebagai pemegang merek mobil Esemka secara yuridis. Artinya, pihak lain tidak bisa menggunakan nama mobil Esemka dalam produknya.

21. Mahasiswa UGM Ubah Urin Kambing Jadi Pupuk Organik

JAKARTA – Pemanfaatan susu kambing Ettawa sudah biasa dilakukan oleh para peternak. Namun, urin kambing pun bisa disulap menjadi produk baru dengan nilai ekonomis tinggi. Ya, di tangan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta urin kambing Ettawa diubah menjadi pupuk cair bernama pupuk urin organik Ettawa alias Purinowa. Pupuk cair ini dibuat dari urin kambing peranakan Ettawa yang telah difermentasi. Diformulasi dengan bahan-bahan organik, pupuk cair ini ternyata mampu menjaga dan memelihara kesuburan tanah dan tanaman.
Sang inovator, yakni Munif Khoriunamala, mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan UGM mengatakan, ide ini muncul setelah kelompok peternak kambing Ettawa di daerah Dusun Barak I, Margoluwih, Sayegan, Sleman, mangeluhkan bau tidak sedap urin di kandang kambing hingga membuat para tetangga terganggu. Lalu, Munif bersama anggota timnya membuat ide untuk memanfaatkan urin tersebut untuk diolah menjadi pupuk organik. Bagaimana caranya? Bagian bawah kandang dipasang pipa paralon berlubang. Cairan urin yang menetes dari kandang, masuk ke pipa, yang kemudian dialirkan ke dalam bak penampung kapasitas 2.000 liter. “Sementara ini, tiap bak menampung urin dari 10 ekor Ettawa. Tiap hari, rata-rata satu ekor kambing menghasilkan minimal tiga liter urin,” tutur Munif, seperti dilansir dari laman UGM, Rabu (4/7/2012).
22.     “Perjaka”, Permen Sehat dari Ikan
JAKARTA – Permen adalah panganan kegemaran anak-anak yang terbuat dari gula dan sedikit protein. Bayangkan jika bahan baku pembuat permen adalah daging ikan? Bagaimana ya rasanya?
Ya, di tangan Nuky Hanggara dan Erfin Dwi Priana, daging ikan kakap bisa disulap menjadi permen kaya protein. Bahkan, kedua mahasiswa pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini juga memberikan nama unik bagi produk mereka, yakni Perjaka.

Menurut Nungky, pemilihan ikan kakap sebagai bahan baku Perjaka berdasarkan berbagai pertimbangan. Kandungan protein yang tinggi serta baunya yang tidak terlalu amis, menjadi salah satu alasan utama.

“Namun tetap digunakan nanas sebagai campuran untuk menghilangkan bau amis ikan. Kalau ikan laut lain, seperti Salmon, harganya mahal dan saat dimasak baunya semakin amis,” ujar Nungky yang merupakan alumni jurusan Tata Boga UNY seperti dilansir dari situs UNY, Kamis (10/11/2011).

Selain ikan, lanjutnya, rumput laut juga menjadi bahan baku dalam pembuatan Perjaka. Perbandingan bahan-bahan baku tersebut yakni 20 persen daging ikan kakap, 50 persen rumput laut, dan 30 persen sisanya terdiri dari gelatin, nanas, perasa alami, gula, serta air.

Bahkan tidak hanya mengandung protein, Perjaka juga kaya akan vitamin. Hal ini dibuktikan dengan variasi rasa Perjaka yaitu sawi, strawberi dan bit, wortel, cokelat, serta kopi.

“Perjaka sangat baik untuk anak-anak, karena memiliki kandungan gizi yang lengkap dan membantu anak-anak yang kesulitan mengonsumsi ikan,” katanya menjelaskan.

Cara pembuatan permen sehat ini juga terbilang mudah. Semua bahan baku dihaluskan menggunakan blender kemudian dipanaskan dan ditambahkan gula. Selanjutnya, tuangkan gelatin yang telah dipanaskan dengan air. Aduk rata dan cetak.

Hasil karya dua sekawan ini berhasil meraih juara empat dalam lomba Inovasi Pengembangan Produk Perikanan kategori mahasiswa. Perlombaan yang dihelat belum lama ini di Jakarta merupakan besutan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

23.     UGM Bangun Sistem Suplai Air Tenaga Matahari

“Sistem pengangkatan air dengan menggunakan tenaga matahari itu mampu menyuplai 7.800 liter per hari untuk memenuhi kebutuhan 118 kepala keluarga yang belum terdistribusi air bersih,” kata penggagas pembangunan sistem dan instalasi tersebut Ahmad Agus Setiawan di Yogyakarta, Kamis.
Ia mengatakan, dengan modal dana Rp250 juta hadiah dari Mondialogo Engineering Award (MEA) 2007, mahasiswa dalam Komunitas Mahasiswa Sentra Energi (Kamase) UGM itu menggunakannya untuk pembangunan fisik sistem dan instalasi pengangkatan air dengan tenaga matahari.

“Pembangunan fisik mulai dilakukan pada Juli 2008 dan selesai pada Agustus 2009. Pemilihan penggunakan teknologi matahari disebabkan Desa Giriharjo memiliki potensi sinar matahari 4,5 jam per hari,” katanya.

Pemasangan panel surya tersebut, menurut dia, berada di atas bukit yang berjarak 1.400 meter dari permukiman penduduk. Panel surya yang digunakan sebanyak 12 buah dan bisa menghasilkan listrik 1.200 watt.

“Listrik yang dihasilkan panel surya tersebut untuk menghidupkan pompa submersibel yang berada dalam air untuk mengangkat air yang kemudian dialirkan ke pipa sepanjang 1.600 meter untuk mengisi enam tandon air yang tersebar di premukiman penduduk. Masing-masing tandon air berkapasitas 5.000 liter,” katanya.

Ia mengatakan, pengelolaan instalasi tenaga surya dan pendistribusian air dilakukan melalui kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) program pemberdayaan masyarakat (PPM) sudah dibentuk organisasi masyarakat setempat yang diberi nama Organisasi Pengelola Air Kaligede (Opakg).

“Untuk pemeliharaan sudah dibentuk Opakg. Pembentukan organisasi itu cukup penting karena mereka harus bersama untuk mengelola semuanya,” kata Ahmad yang juga dosen Fakultas Teknik UGM.

24.     Mahasiswa UNY Ciptakan Mesin Pemotong Kentang
JAKARTA – Menjamurnya rumah makan siap saji di Yogyakarta khususnya menjadi alasan tiga mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menciptakan sebuah inovasi. Mereka menciptakan sebuah alat pemotong kentang otomatis.
Mereka adalah Syafiq, mahasiswa semester lima jurusan Pendidikan Teknik Mesin; Riza, mahasiswi semester lima jurusan Manajemen Pendidikan; dan Rizky, mahasiswa jurusan Pendidikan Fisika.

Menurut Syafiq, pembuatan alat ini berawal dari menu kentang goreng (french fries) yang terdapat dalam rumah makan siap saji. Umumnya, panganan ini berbentuk balok panjang dengan rasa yang renyah.

“Akan tetapi, dari hasil survei yang dilakukan terhadap sejumlah rumah makan di Yogyakrta, potongan kentang tersebut masih berasal dari luar negeri,” ujar Syafiq seperti dilansir dari situs UNY, Selasa (15/11/2011).

Alat ciptaan tiga sekawan ini memiliki banyak manfaat bagi para produsen makanan. Pasalnya, mesin yang bekerja dengan mekanisme silinder ini berkapasitas 138 kilogram (kg) kentang balok per jam untuk satu kali proses memotong.

“Selain itu, alat pemotong kentang otomatis ini bentuknya sederhana, minimalis, dan tidak memakan banyak tempat,” katanya menambahkan.

Hasil karya putra-putri Kota Gudeg ini berhasil meraih juara tiga dalam Lomba Cipta Alat Tepat Guna. Riza mengaku merasa senang dan tidak menyangka atas prestasi yang diraihnya.

“Setelah melalui proses seleksi yang cukup panjang, dimulailah pengumpulan proposal, pembuatan alat, dan presentasi, serta uji coba karya. Akhirnya, hasil rancangannya sukses menarik minat para juri yang hadir,” ujar Riza.

25.     Mahasiswa UMY Ciptakan Alarm Minum Obat TBC
JAKARTA – Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit yang dapat diobati dengan pengobatan intensif. Penderita harus disiplin dalam meminum obat dan tidak boleh terlewat sekali pun selama enam bulan.
Jika pasien lupa meminum obat sekali saja, maka pengobatan tersebut harus diulang dari awal. Padahal, pengobatan yang dilakukan berulang-ulang akan membentuk kekebalan di tubuh pasien terhadap obat tersebut.

Berangkat dari hal ini, dua mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Mudammadiyah Yogyakarta (UMY) menciptakan fasilitas pengingat minum obat bagi pasien TBC. Program ciptaan karya Aldilas Achmad Nursetyo dan Ahmad Ali Zulkarnain ini berupa Short Message Services (SMS) otomatis berbasis android.

Menurut Aldilas, alat ini menggunakan perangkat lunak PMO System v.10 yang dapat mengirimkan SMS secara berkala dan otomatis. “Setiap hari dalam waktu yang sama, pasien akan selalu diingatkan untuk meminum obat. Sehingga pasien tidak lupa atau terlambat ketika meminum obatnya,” ujar Aldi, sapaan Aldilas seperti dilansir dari situs UMY, Rabu (26/10/2011).

Aldi mengungkapkan, untuk menggunakan fasilitas ini, pasien harus memasukkan data diri terkait dengan pengobatan, seperti nama, obat yang harus diminum, jumlah tablet yang harus diminum, dan sebagainya.

“Pasien harus memasukkan nama, obat yang harus diminum, jumlah tablet yang harus diminum, nama dokter yang merawat, serta jadwal pengiriman sms. Setelah data tersimpan, SMS akan dikirimkan sesuai jadwal yang ditentukan,” katanya menjelaskan.

Dalam pengoperasian alat ini, dua sekawan ini mengajak Balai Pengobatan Penyakit Baru (BP4) Kota Yogyakarta sebagai mitra kerja sama. “BP4 merupakan pusat data pasien TBC di Yogyakarta sehingga kami mengujicobakan alat tersebut di sini. Ketika dokter di sini menggunakan alat tersebut, kami mendapatkan respons yang cukup baik dari pasien maupun keluarga pasien,” ujar Aldi menerangkan.

Melihat respons yang cukup baik mengenai alat ciptaannya, Aldi dan Ahmad berniat untuk mengembangkan aplikasi alat tersebut, sehingga tidak berbasis pada android saja.

“Salah satunya mengupayakan agar pemrograman perangkat lunak ini dapat dipasang atau digunakan pada telepon genggam. Ini memungkinkan alat ini digunakan oleh banyak orang sehingga semakin banyak pasien TBC yang terbantu,” tuturnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s